Bus hantu (part 3)Senyum lebar bertaring

baca part sebelumnya

Tiba-tiba muncul senyum lebar dengan Taring yang tajam dari balik kaca bus yang berembun. "Astaga!!!.. " reflekku terkejut.

Aku dan ayah terbelalak melihat wajah dari entah makhluk apa itu, dia menatap dengan mata merah besarnya, sembari senyum namun terlihat mengerikan karena senyumnya yang lebar dan bertaring yang panjang bak pisau dapur.

Susunan gigi yang tak beraturan dan sedikit lendir yang berjatuhan, menambah kengerian makhluk itu. Aku dan ayahku pun shok.. entah kami bisa berdiri apa tidak.

Makhluk itu kira-kira punya tinggi dua meter, karena bisa mengintip dengan kepala besar di kaca jendela bus yang tinggi itu. "Nak..apa kamu baik-baik saja..?"tanya ayahku sembari memecah lamunanku.

"A..a aku baik saja yah..tapi aku tak bisa menggerakkan kakiku".. jawabku dengan bibir beku dan kaku karena kedinginan dan ketakutan disaat yang sama.

Tiba-tiba langit menjadi gelap, menambah suasana menjadi mencekam. Aku dan ayahku berkeringat dingin, entah apa yang terjadi kedepan, apakah aku dan ayahku akan survive atau mati ditangan makhluk yang mengerikan itu.

"Ayah..dimana selendang hitam nenek..?" Ingatku ketika ke khawatiran merambah di kepalaku. Oh iya juga? Bukankah nenek menyuruh kita memakainya ketika matahari terbenam? Sepertinya ini sudah senja, ayo. Kita pakai" jawab ayah.

Ayah mengeluarkan selendang hitam nenek dari tas ransel yang dia bawa. Lalu melilitkannya ke kedua bahu nya dan bahuku, selendang ini cukup panjang sehingga bisa menutupi bahu dan dada kami berdua.

Setelah kami pakai, tiba-tiba selendang itu menyala, seolah-olah ada lampu didalamnya. "Waw keren sekali" kataku dan ayahku berbarengan. Apa ini semacam selendang sihir, gumamku.

Setelah selendang hitam nenek menyala, kamipun melihat kembali ke kaca jendela dan apa yang terjadi, makhluk mengerikan tadi sudah tidak ada. Entah kemana perginya. Aku dan ayahku saling menatap dan bertanya bingung, kemana perginya?.

"Nak ..mungkin dia sudah pergi, ayo kita coba berdiri" ajak ayahku. Akupun berdiri mengikuti perkataan ayahku, dan alhasil kami bisa berdiri dan berjalan keluar bis. "Ayah..aku masih takut.. mungkin ini jebakan, ,..mungkin dia masih ada di samping bus..mungkin.. " "hus..sudah nak, kamu jangan takut, kamu dibelakang ayah saja" ayah menguatkan ku.

Kamipun menuruni tangga bus dan waspada, melihat kanan kiri apa masih ada makhluk itu dan ternyata sepi tidak ada siapapun. Aku lega dan langsung berlari cepat menuju semak-semak tadi untuk kembali kerumah nenek.

Kami berlari dengan cepat menembus semak belukar lebat dibawah pohon-pohon yang menjulang tinggi dan daunnya ditembus cahaya rembulan terbit. Seolah-olah kami sudah sangat hafal dengan jalan kerumah nenek, sampai-sampai kami tak berhenti berlari.

Akhirnya, kami pun tiba didepan rumah berbentuk gubuk milik nenek, dan nenek langsung membukakan pintu untuk kami, lalu kami masuk dan nenek segera menutupnya. "Kalian berani sekali..apa kalian baik-baik saja?" Tanya nenek kepada kami.

"Aman nek.. aman ..hanya saja..hanya.." jawabku sambil terengah-engah. Aku meminta segelas air untuk minum karena haus sekali, lalu nenek pergi mengambil air untuk kami. "Apa kalian bertemu dengan Dilah? " Tanya nenek sambil memberi dua gelas air minum kepada kami.

"Hah? Dilah? Apaan itu nek?" Tanya ku dan ayahku. " ya Dilah.. mahluk bertubuh tinggi berkepala besar dengan mata merah dan senyuman lebar penuh taring yang panjang dan acak"

"Oh itu namanya Dilah,, astaga nek.. mengerikan sekali, kami melihatnya pada saat didalam bus, dia mengintip kami dari luar kaca jendela, aku dan ayahku seketika langsung kaku tak kuat berdiri, bahkan suhu sekitar pun tiba-tiba menurun drastis" jelasku.

"Jangan!! "Sontak nenek. "Kalian jangan sekali-kali menatap matanya yang besar dan merah kalau kalian tidak mau mati" nenek memberi peringatan dengan urat yang keluar di lehernya.

"Kenapa begitu nek" kata ayah. "Dilah adalah mahluk bayangan yang dulunya, ketika hidup di dunia suka berbuat jahat, saat mereka  mati, penyihir peri yang tinggal jauh lebih dalam di hutan legenda menghidupkannya kembali menggunakan ritual hitam yang sangat jahat.. saking jahatnya ,,hutan tersebut menjadi terkutuk.

Pohon-pohonnya menjadi besar dan tinggi namun tidak memberi kesegaran sama sekali jika berada dibawahnya, melainkan rasa pusing dan kantuk yang hebat, juga dahan, ranting dan dedaunannya dipenuhi dengan sarang laba-laba martis, yang mana laba laba itu berukuran besar seperti sapi, dan punya delapan kaki yang ujung-ujungnya berbentuk seperti pisau runcing nan tajam.

Semua yang ada di dalam hutan itu saaaangat terkutuk. Dan tempat kita tinggal sekarang ini adalah muara dari hutan tersebut, makanya sekitar rumah nenek dipenuhi kabut namun tidak setebal kabut di dalam hutan penyihir itu" jelas nenek.

Aku dan ayahku tercengang mendengar cerita dari nenek, seketika otakku menolak karena ini tidak masuk akal,,aku yang tadinya ketika pagi membuka handphone dan melihat jam lalu buka jadwal jalan-jalan hari ini, menaiki bus ,,melihat bangunan kota-kota dipinggir jalan yang indah.

Tiba-tiba dihadapkan dengan situasi yang mungkin ini ada di era jaman dahulu, bahkan itupun kalau ada.. "hah apa nek... penyihir? Apa mereka ada..?" Tanyaku tak percaya.

"Apa kamu dan ayahmu berlari kesini meunakan selendang hitamku yang menyala?"  nenek bertanya balik.

"Oh iya juga, sedari kamu ikatkan selendang ini dibahu kami, selendangnya menyala nek.. bagaimana bisa seperti itu?"tanyaku bingung.

"Itulah sihir" kata nenek. "Cuman, nenek hanya memberikan sedikit mana yang ada pada selendang itu. "Hah ..mana ..apaan nek, mana itukan partikel sihir yang biasa ada di kartun animasi jepang. Nenek pun tertawa pelan, "hahaha...dasar anak muda, kalian pikir itu hanya ada di film kartun anak ...hahah" nenek tertawa dan sedikit meremehkan.

"Apa didunia ini ..sihir itu benar-benar ada nek?" Tanya ayahku. " Ya iyalah.. kalian saja yang terlalu sibuk dengan urusan dunia, kalian lupa apa yang ada di dunia yang luas ini..kalian pikir yang hidup di dunia hanya manusia, hewan dan tumbuhan? Hahahaha...bodoh sekali kalian..eh maaf,,nenek keceplosan " sindir nenek.

Aku dan ayahku merasa kaget mendengar penjelasan nenek sambil merasa ngeri karena ketawanya nenek benar-benar menggelegar. Namun kami percaya karena perkataan nenek tidak terdengar seperti orang yang ingin menipu, lagipula kami sudah lihat selendang hitam yang bisa mengeluarkan cahaya terang, kami juga. Bertemu dengan Dilah si mahluk mengerikan itu.

Sungguh, aku sangat kaget, dan hatiku juga mulai membara karena ingin membuktikan apakah benar-benar kami melewatkan dunia yang penuh misteri ini, sudah dua puluh delapan umurku dan baru tahu kalo sihir itu benar-benar ada. Bahkan ayahku pun baru mengetahuinya.

"Nek ..aku mau bertanya, bagaimana bisa hutan ini eh maksudnya dunia ini belum ditemukan oleh siapapun" tanyaku yang penasaran.

"Pertanyaan bagus nak.. semua manusia tidak akan melihat hutan ini, mereka ada didunia mu" jawab nenek.

"Hah. .duniamu? Maksudnya? Ini dunia lain? Tanyaku.

"Yap kamu benar nak, inilah yang dinamakan dunia paralel, untuk waktu dan tempat sama sama berjalan semestinya, namun dunia ini tidak terlihat oleh manusia yang ada di duniamu. Hanya orang yang pernah menaiki bus hantu itulah baru bisa melihat semuanya" jawab nenek dengan semangat.

"Apa mungkin bus yang kami tumpangi tadi adalah BUS HANTU!!!??? "tanyaku sambil merasakan bulu kuduk yang mencicil berdiri.

"Hm begitu lah.. kalian benar-benar kasihan, salah pilih bus" kata nenek sambil memberikan senyuman yang creepy. Tapi tenang saja, selama selendang ku ada pada bahu kalian, maka kalian akan aman dimanapun berada, karena itu berisi kemuliaan.





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

TATA CARA SHOLAT TARAWIH DIRUMAH

Mengenal Budaya Lokal