PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM
PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM
*(Lanjutan dari Part 3: Kamu dan ayah baru saja mengetahui bahwa kalian terjebak di dunia paralel yang dihuni makhluk-makhluk mengerikan, dilindungi oleh selendang hitam nenek yang misterius...)*
"Kemuliaan?" batinku skeptis, sambil meraba selendang hitam yang masih memancarkan cahaya redup seperti kunang-kunang terjebak dalam kain. Nenek tiba-tiba berdiri, langkahnya berat tapi pasti menuju lemari kayu antik di sudut ruangan.
"Dengar baik-baik," suaranya bergetar saat membuka lemari itu. "Selendang ini dibuat dari rambut 100 dukun yang dikorbankan penyihir peri untuk melawan kutukan hutan. Setiap helainya—"
BRUKK!
Pintu rumah nenek bergetar hebat, seolah ditabrak sesuatu yang besar. Laba-laba martis? Dilah? Atau sesuatu yang lebih buruk? Aku dan ayah bersandar ke dinding, jantung berdebar kencang.
"Mereka tahu kalian di sini," bisik nenek, matanya melotot tak wajar. "Cahaya selendang menarik mereka... seperti ngengat ke api."
Ayahku mencoba mengintip dari jendela—langsung menjerit. Separuh wajah Dilah menempel di kaca, mulutnya terkoyak hingga ke telinga, mengeluarkan suara decak seperti daging diremas. Tapi ini lebih mengerikan: dia tidak sendirian.
Dari balik kabut, puluhan mata merah berkedip-kedip mendekat. Bentuk-bentuk tubuh bengkok merayap di tanah, ada yang berkaki delapan, ada yang berjalan terbalik dengan leher terpuntir.
"Kita harus pergi. SEKARANG!" teriak nenek, menyodorkan tas kulit berisi benda-benda aneh: botol berisi cairan hijau, tulang ukiran, dan—sebilah pisau berlumur darah kering.
"Pisau ini bisa membuka portal ke duniamu," nenek membelalak, "TAPI butuh pengorbanan: darah keluarga!"
Ayahku memandangku panik. Apa maksudnya? Siapa yang harus dikorbankan?
Tiba-tiba—CRASH!—jendela pecah. Sebuah kaki laba-laba sepanjang tombak menusuk lantai, hanya centimeter dari kakiku. Darah hitam menetes dari ujungnya yang berbentuk pisau.
Nenek mendorong kami ke ruang bawah tanah. "Pilih!" pekiknya sambil mengacungkan pisau. "Kalian berdua tidak bisa selamat! Hanya satu yang bisa kembali!"
Dari atas, suara decak dan cakar di pintu semakin keras. Bau amis daging busuk menyusup lewat celah-celah lantai.
Ayahku menarik tanganku. "Ambil pisau itu," bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Aku akan tahan mereka.
"TIDAK AKU TIDAK MAU!" teriakku, menolak pisau berdarah yang nenek sodorkan. Tubuhku gemetar, keringat dingin mengalir deras. Di luar, suara decitan cakar dan teriakan parau semakin dekat.
Nenek menyambar bahuku dengan cengkeraman kuat. "Kau mau mati sia-sia?!" raungnya, bau tanah kuburan dan jamur busuk menyengat dari napasnya. "Lihat!"
Dia menyibak tirai jendela—Aku hampir muntah.
Laba-laba martis sebesar kuda merangkak di atap, delapan kakinya yang berbentuk pisau menusuk-nusuk kayu rumah. Cairan kental hijau menetes dari mulutnya yang penuh gigi jarum. Dan di bawahnya... Dilah.
Tapi bukan satu.
Ada lima.
Lima makhluk identik dengan senyum terbelah hingga telinga, mata merah menyala seperti bara, mengelilingi rumah. Salah satunya mengulum sesuatu—sepotong lengan manusia masih menetes darah.
Ayahku mendorongku ke belakang. "Ambil pisau itu, Nak!"
ADEGAN 2: RAHASIA DARAH KELUARGA
Nenek merobek lengan bajunya, memperlihatkan tato aneh berbentuk mata dengan huruf-huruf kuno. "Darah kita bukan untuk dikorbankan," desisnya sambil menggoreskan pisau ke telapak tangannya sendiri. "Tapi untuk membangkitkan!"
Darahnya—hitam pekat seperti oli—menetes ke lantai, membentuk lingkaran.
"Apa kau gila?!" teriak ayah.
"Diam!" nenek memekik. "Kakekmu dulu adalah dukun terkuat di hutan ini! Darahnya mengalir dalam kita!"
Darah itu tiba-tiba menyala biru, dan bayangan besar muncul dari lingkaran—wujud pria bertanduk dengan mata putih tanpa pupil.
ADEGAN 3: KEBENARAN YANG MENGGUNCANG
"Kalian membangkitkanku?" suara bayangan itu bergema, seperti ratusan orang berbicara bersamaan.
Nenek bersujud. "Bantu kami, Kakek! Mereka anak cucumu!"
Bayangan itu memandangku dan ayah—lalu tiba-tiba tertawa.
"Kalian tidak tahu, ya?" bisiknya. "Kalian bukan yang pertama terperangkap di sini."
Dia mengangkat tangan—dan gambar-gambar mengerikan muncul di udara:
Ayahmu yang "asli" tewas 20 tahun lalu di bus yang sama.
"Ayah" yang sekarang adalah jiwa yang terjebak, dikutuk ulang oleh penyihir peri.
Dan kau... kau adalah anak ketiga yang dicoba diselamatkan.
"Kau gagal dua kali sebelumnya," kata bayangan itu. "Di kehidupan lain."
ADEGAN 4: PILIHAN YANG MUSTAHIL
"LALU UNTUK APA PISAU INI?!" aku menjerit, memegang erat pisau berdarah.
Bayangan itu tersenyum. "Bukan untuk membunuh... tapi untuk mengingat."
Darah keluarga = ingatan yang terhapus.
"Minum darah ayahmu," bisiknya. "Dan kau akan tahu segalanya."
Ayahku terpaku. "Jangan..."
Tapi sudah terlambat. Aku sudah menggoreskan pisau ke lengannya—dan meneguk darah yang mengalir.
DUNIA BERPUTAR.
*(Lanjutan dari Part 3: Kamu dan ayah baru saja mengetahui bahwa kalian terjebak di dunia paralel yang dihuni makhluk-makhluk mengerikan, dilindungi oleh selendang hitam nenek yang misterius...)*
"Kemuliaan?" batinku skeptis, sambil meraba selendang hitam yang masih memancarkan cahaya redup seperti kunang-kunang terjebak dalam kain. Nenek tiba-tiba berdiri, langkahnya berat tapi pasti menuju lemari kayu antik di sudut ruangan.
"Dengar baik-baik," suaranya bergetar saat membuka lemari itu. "Selendang ini dibuat dari rambut 100 dukun yang dikorbankan penyihir peri untuk melawan kutukan hutan. Setiap helainya—"
BRUKK!
Pintu rumah nenek bergetar hebat, seolah ditabrak sesuatu yang besar. Laba-laba martis? Dilah? Atau sesuatu yang lebih buruk? Aku dan ayah bersandar ke dinding, jantung berdebar kencang.
"Mereka tahu kalian di sini," bisik nenek, matanya melotot tak wajar. "Cahaya selendang menarik mereka... seperti ngengat ke api."
Ayahku mencoba mengintip dari jendela—langsung menjerit. Separuh wajah Dilah menempel di kaca, mulutnya terkoyak hingga ke telinga, mengeluarkan suara decak seperti daging diremas. Tapi ini lebih mengerikan: dia tidak sendirian.
Dari balik kabut, puluhan mata merah berkedip-kedip mendekat. Bentuk-bentuk tubuh bengkok merayap di tanah, ada yang berkaki delapan, ada yang berjalan terbalik dengan leher terpuntir.
"Kita harus pergi. SEKARANG!" teriak nenek, menyodorkan tas kulit berisi benda-benda aneh: botol berisi cairan hijau, tulang ukiran, dan—sebilah pisau berlumur darah kering.
"Pisau ini bisa membuka portal ke duniamu," nenek membelalak, "TAPI butuh pengorbanan: darah keluarga!"
Ayahku memandangku panik. Apa maksudnya? Siapa yang harus dikorbankan?
Tiba-tiba—CRASH!—jendela pecah. Sebuah kaki laba-laba sepanjang tombak menusuk lantai, hanya centimeter dari kakiku. Darah hitam menetes dari ujungnya yang berbentuk pisau.
Nenek mendorong kami ke ruang bawah tanah. "Pilih!" pekiknya sambil mengacungkan pisau. "Kalian berdua tidak bisa selamat! Hanya satu yang bisa kembali!"
Dari atas, suara decak dan cakar di pintu semakin keras. Bau amis daging busuk menyusup lewat celah-celah lantai.
Ayahku menarik tanganku. "Ambil pisau itu," bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Aku akan tahan mereka.
"TIDAK AKU TIDAK MAU!" teriakku, menolak pisau berdarah yang nenek sodorkan. Tubuhku gemetar, keringat dingin mengalir deras. Di luar, suara decitan cakar dan teriakan parau semakin dekat.
Nenek menyambar bahuku dengan cengkeraman kuat. "Kau mau mati sia-sia?!" raungnya, bau tanah kuburan dan jamur busuk menyengat dari napasnya. "Lihat!"
Dia menyibak tirai jendela—Aku hampir muntah.
Laba-laba martis sebesar kuda merangkak di atap, delapan kakinya yang berbentuk pisau menusuk-nusuk kayu rumah. Cairan kental hijau menetes dari mulutnya yang penuh gigi jarum. Dan di bawahnya... Dilah.
Tapi bukan satu.
Ada lima.
Lima makhluk identik dengan senyum terbelah hingga telinga, mata merah menyala seperti bara, mengelilingi rumah. Salah satunya mengulum sesuatu—sepotong lengan manusia masih menetes darah.
Ayahku mendorongku ke belakang. "Ambil pisau itu, Nak!"
ADEGAN 2: RAHASIA DARAH KELUARGA
Nenek merobek lengan bajunya, memperlihatkan tato aneh berbentuk mata dengan huruf-huruf kuno. "Darah kita bukan untuk dikorbankan," desisnya sambil menggoreskan pisau ke telapak tangannya sendiri. "Tapi untuk membangkitkan!"
Darahnya—hitam pekat seperti oli—menetes ke lantai, membentuk lingkaran.
"Apa kau gila?!" teriak ayah.
"Diam!" nenek memekik. "Kakekmu dulu adalah dukun terkuat di hutan ini! Darahnya mengalir dalam kita!"
Darah itu tiba-tiba menyala biru, dan bayangan besar muncul dari lingkaran—wujud pria bertanduk dengan mata putih tanpa pupil.
ADEGAN 3: KEBENARAN YANG MENGGUNCANG
"Kalian membangkitkanku?" suara bayangan itu bergema, seperti ratusan orang berbicara bersamaan.
Nenek bersujud. "Bantu kami, Kakek! Mereka anak cucumu!"
Bayangan itu memandangku dan ayah—lalu tiba-tiba tertawa.
"Kalian tidak tahu, ya?" bisiknya. "Kalian bukan yang pertama terperangkap di sini."
Dia mengangkat tangan—dan gambar-gambar mengerikan muncul di udara:
Ayahmu yang "asli" tewas 20 tahun lalu di bus yang sama.
"Ayah" yang sekarang adalah jiwa yang terjebak, dikutuk ulang oleh penyihir peri.
Dan kau... kau adalah anak ketiga yang dicoba diselamatkan.
"Kau gagal dua kali sebelumnya," kata bayangan itu. "Di kehidupan lain."
ADEGAN 4: PILIHAN YANG MUSTAHIL
"LALU UNTUK APA PISAU INI?!" aku menjerit, memegang erat pisau berdarah.
Bayangan itu tersenyum. "Bukan untuk membunuh... tapi untuk mengingat."
Darah keluarga = ingatan yang terhapus.
"Minum darah ayahmu," bisiknya. "Dan kau akan tahu segalanya."
Ayahku terpaku. "Jangan..."
Tapi sudah terlambat. Aku sudah menggoreskan pisau ke lengannya—dan meneguk darah yang mengalir.
DUNIA BERPUTAR.
Comments
Post a Comment