Posts

PART 5: INGATAN YANG TERKUTUK

  *(Lanjutan dari Part 4: Kamu baru saja meneguk darah ayahmu—dan sekarang ingatan kehidupan-kehidupan sebelumnya membanjiri pikiranmu...)* ADEGAN 1: DARAH & KENANGAN YANG TERKUNCI Darah ayah di lidahku terasa seperti besi berkarat dan abu. Tiba-tiba— Sakit. Kepalaku seolah dibelah kapak. Ribuan gambar berkedip cepat di benakku: Versi pertamamu (usia 9 tahun) – Terinjak-injak kerumunan panik saat bus hantu pertama kali muncul. Versi keduamu (usia 17 tahun) – Terjebak di toilet bus saat Dilah merobek perutmu dengan taringnya. Dan sekarang… versi ketigamu. "Kau selalu gagal di menit yang sama," bisik bayangan Kakek dalam kepalamu. "Ketika jarum jam menunjukkan pukul 00:03… saat itulah kau mati." Di dunia nyata (atau apa yang kau kira nyata), tubuhmu kejang-kejang di lantai. Nenek menjerit sambil mencoba memelukmu. Ayahmu—atau sosok yang mengaku sebagai ayahmu—berdiri kaku dengan wajah mulai meleleh seperti lilin terkena api. "Maafkan aku, Nak," suaranya ...

PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM

PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM *(Lanjutan dari Part 3: Kamu dan ayah baru saja mengetahui bahwa kalian terjebak di dunia paralel yang dihuni makhluk-makhluk mengerikan, dilindungi oleh selendang hitam nenek yang misterius...)* "Kemuliaan?" batinku skeptis, sambil meraba selendang hitam yang masih memancarkan cahaya redup seperti kunang-kunang terjebak dalam kain. Nenek tiba-tiba berdiri, langkahnya berat tapi pasti menuju lemari kayu antik di sudut ruangan. "Dengar baik-baik," suaranya bergetar saat membuka lemari itu. "Selendang ini dibuat dari rambut 100 dukun yang dikorbankan penyihir peri untuk melawan kutukan hutan. Setiap helainya—" BRUKK! Pintu rumah nenek bergetar hebat, seolah ditabrak sesuatu yang besar. Laba-laba martis? Dilah? Atau sesuatu yang lebih buruk? Aku dan ayah bersandar ke dinding, jantung berdebar kencang. "Mereka tahu kalian di sini," bisik nenek, matanya melotot tak wajar. "Cahaya selendang menarik mereka... seperti...

Bus hantu (part 3)Senyum lebar bertaring

baca part sebelumnya Tiba-tiba muncul senyum lebar dengan Taring yang tajam dari balik kaca bus yang berembun. "Astaga!!!.. " reflekku terkejut. Aku dan ayah terbelalak melihat wajah dari entah makhluk apa itu, dia menatap dengan mata merah besarnya, sembari senyum namun terlihat mengerikan karena senyumnya yang lebar dan bertaring yang panjang bak pisau dapur. Susunan gigi yang tak beraturan dan sedikit lendir yang berjatuhan, menambah kengerian makhluk itu. Aku dan ayahku pun shok.. entah kami bisa berdiri apa tidak. Makhluk itu kira-kira punya tinggi dua meter, karena bisa mengintip dengan kepala besar di kaca jendela bus yang tinggi itu. "Nak..apa kamu baik-baik saja..?"tanya ayahku sembari memecah lamunanku. "A..a aku baik saja yah..tapi aku tak bisa menggerakkan kakiku".. jawabku dengan bibir beku dan kaku karena kedinginan dan ketakutan disaat yang sama. Tiba-tiba langit menjadi gelap, menambah suasana menjadi mencekam. Aku dan ayahku berkeringat d...

Mengenal Budaya Lokal

    Di berbagai sudut nusantara kita terdapat watisan yang amat beragam. masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Salah satu contoh adalah wayang kulit, yakni seni dimana cerita, musik dan seni visual dipadu, dengan pengendali cerita yaitu dalang. Wayang kulit tidak hanya sekedar hiburan tapi juga ajaran-ajaran dan nasihat kehidupan terkandung di dalam.     Namun wayang kulit hanyalah salah satu dari berbagai jenis contoh di budaya di negeri kita, masih ada banyak lagi seperti tari saman misalnya, tari yang berasal dari Aceh dengan gerakan harmonis dan cepat. Tari ini tidak hanya sekedar hiburan juga, tapi juga wadah untuk memperkuat kebersamaan dan nilai spiritual.     Setiap gerakan pada Tari Saman mengandung makna yang dalam, yakni menghargai sesama dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Para penari pria bergerak mengikuti irama serentak dan dipandu oleh pemimpinnya. Pertunjukan ini sering sekali ditampilkan pada acara-acara yang penting hal nya pe...

GOOSEBUMPS, SELAMAT DATANG DIRUMAH KEMATIAN

Bab.I  Pemindaian Mayat Hidup      Josh dan aku benci dengan rumah baruku. Astaga benar-benar, ini sangat besar dibandingkan rumah lamaku.  Dinding bata merah yang tinggi dengan atap hitam miring dan bingkai jendela yang rapi.       "ini sungguh gelap" pikirku sambil mengamati dari jalan. Seluruh bagian rumah ditutupi oleh kegelapan seolah-olah bersembunyi  di bayang-bayang keriput, Pohon-pohon tua yang membungkuk melewati atap-atapnya. Ini sudah pertengahan bulan Juli, tapi daun-daun cokelat yang berguguran masih menyelimuti halaman depan. Sepatu sniker kami menginjak keras dedaunan tersebut dengan susah payah melewati jalan masuk yang berkerikil.      Rumput-rumput liar yang tinggi muncul dimana-mana melalui daun-daun yang gugur. Rumput-rumput tebal ini menumbuhi sebuah kasur bunga-bunga mawar tua yang ada disamping teras depan. "Rumah ini benar-benar menyeramkan", gumamku tak senang. Josh pasti juga berpikir demikian, s...

Bus Hantu (part 2) Selendang Hitam Nenek

Image
Baca sebelumnya, Part I Gubuk Kuno Selendang Hitam Nenek Source: Liputan6.com Tiba-tiba anak itu...TERIAK MINTA TOLONG dari dalam bus!!!. Tolooooong..tolong..buka pintu busnyaa... Spontan aku dan ayahku menjatuhkan tas dan lari menuju bus membukakan pintu, "kok pintu bus nya ditutup sih" teriakku. Tangan nenek yang tua dan lusuh itu menggenggam erat kedua tangan kami. hingga tertahan dan jatuh ke bumi. "Nek !! Ngapain sih !!!" Bentak ayah yang tersungkur.  "Kalian yang ngapain"!! Balas nenek,, "Ya mau bukain pintu nek,, kan dia minta tolong"  Yakin?" Tanya nenek sambil menatap bola mata ayah dan aku. "....... Lah kenapa enggak yakin..?" balas ayah "Bukannya kalian baru saja keluar dari bus? Karena tidak mendapati anak itu.. ? jelas nenek. Ayah dan aku tersadar .. "oh benar juga,, kenapa anak itu ada di dalam bus?" Gumam kami,,  Aku dan ayah langsung bangkit menuruti langkah nenek,, menjauhi bus tanpa berpaling sama s...

Bus Hantu

Image
          Suatu pagi yang cerah, aku dan ayahku pergi liburan ke pantai naik bus untuk menghadiri acara akrab sekolah. Anak-anak yang lain pun juga mengikutinya, bahkan mereka sudah naik bus lebih pagi daripada aku. Untungnya aku dan ayahku tidur cepat semalam, so kami tidak terlambat. Segalanya sudah siap, bekal yang lezat dari mama, pakaian renang dan keperluan yang lain juga sudah didalam tas. Aku dan ayahku siap meluncur, kami pun pamit kepada Mama dan pergi keluar. Jam menunjukkan pukul 6.30 pagi, aku dan ayahku pergi menaiki bus yang sudah menunggu di luar. Aku senang sekali karena ini pengalaman pertamaku masuk ke sekolah baru, bertemu orang-orang baru, dengan acara yang luar biasa ini. Ayah menaruh tasku dan tasnya di bagasi yang tersedia. Ayahku duduk paling depan dan aku duduk di belakang. Aku melewati anak-anak lain yang belum kukenal. Hanya satu sahabatku yaitu Dewi.  Aku mencari sahabatku Dewi dan aku menemukannya duduk bersandar dibelakan...