PART 5: INGATAN YANG TERKUTUK
*(Lanjutan dari Part 4: Kamu baru saja meneguk darah ayahmu—dan sekarang ingatan kehidupan-kehidupan sebelumnya membanjiri pikiranmu...)* ADEGAN 1: DARAH & KENANGAN YANG TERKUNCI Darah ayah di lidahku terasa seperti besi berkarat dan abu. Tiba-tiba— Sakit. Kepalaku seolah dibelah kapak. Ribuan gambar berkedip cepat di benakku: Versi pertamamu (usia 9 tahun) – Terinjak-injak kerumunan panik saat bus hantu pertama kali muncul. Versi keduamu (usia 17 tahun) – Terjebak di toilet bus saat Dilah merobek perutmu dengan taringnya. Dan sekarang… versi ketigamu. "Kau selalu gagal di menit yang sama," bisik bayangan Kakek dalam kepalamu. "Ketika jarum jam menunjukkan pukul 00:03… saat itulah kau mati." Di dunia nyata (atau apa yang kau kira nyata), tubuhmu kejang-kejang di lantai. Nenek menjerit sambil mencoba memelukmu. Ayahmu—atau sosok yang mengaku sebagai ayahmu—berdiri kaku dengan wajah mulai meleleh seperti lilin terkena api. "Maafkan aku, Nak," suaranya ...