Posts

Showing posts from April, 2025

PART 5: INGATAN YANG TERKUTUK

  *(Lanjutan dari Part 4: Kamu baru saja meneguk darah ayahmu—dan sekarang ingatan kehidupan-kehidupan sebelumnya membanjiri pikiranmu...)* ADEGAN 1: DARAH & KENANGAN YANG TERKUNCI Darah ayah di lidahku terasa seperti besi berkarat dan abu. Tiba-tiba— Sakit. Kepalaku seolah dibelah kapak. Ribuan gambar berkedip cepat di benakku: Versi pertamamu (usia 9 tahun) – Terinjak-injak kerumunan panik saat bus hantu pertama kali muncul. Versi keduamu (usia 17 tahun) – Terjebak di toilet bus saat Dilah merobek perutmu dengan taringnya. Dan sekarang… versi ketigamu. "Kau selalu gagal di menit yang sama," bisik bayangan Kakek dalam kepalamu. "Ketika jarum jam menunjukkan pukul 00:03… saat itulah kau mati." Di dunia nyata (atau apa yang kau kira nyata), tubuhmu kejang-kejang di lantai. Nenek menjerit sambil mencoba memelukmu. Ayahmu—atau sosok yang mengaku sebagai ayahmu—berdiri kaku dengan wajah mulai meleleh seperti lilin terkena api. "Maafkan aku, Nak," suaranya ...

PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM

PART 4: RAHASIA SELENDANG HITAM *(Lanjutan dari Part 3: Kamu dan ayah baru saja mengetahui bahwa kalian terjebak di dunia paralel yang dihuni makhluk-makhluk mengerikan, dilindungi oleh selendang hitam nenek yang misterius...)* "Kemuliaan?" batinku skeptis, sambil meraba selendang hitam yang masih memancarkan cahaya redup seperti kunang-kunang terjebak dalam kain. Nenek tiba-tiba berdiri, langkahnya berat tapi pasti menuju lemari kayu antik di sudut ruangan. "Dengar baik-baik," suaranya bergetar saat membuka lemari itu. "Selendang ini dibuat dari rambut 100 dukun yang dikorbankan penyihir peri untuk melawan kutukan hutan. Setiap helainya—" BRUKK! Pintu rumah nenek bergetar hebat, seolah ditabrak sesuatu yang besar. Laba-laba martis? Dilah? Atau sesuatu yang lebih buruk? Aku dan ayah bersandar ke dinding, jantung berdebar kencang. "Mereka tahu kalian di sini," bisik nenek, matanya melotot tak wajar. "Cahaya selendang menarik mereka... seperti...

Bus hantu (part 3)Senyum lebar bertaring

baca part sebelumnya Tiba-tiba muncul senyum lebar dengan Taring yang tajam dari balik kaca bus yang berembun. "Astaga!!!.. " reflekku terkejut. Aku dan ayah terbelalak melihat wajah dari entah makhluk apa itu, dia menatap dengan mata merah besarnya, sembari senyum namun terlihat mengerikan karena senyumnya yang lebar dan bertaring yang panjang bak pisau dapur. Susunan gigi yang tak beraturan dan sedikit lendir yang berjatuhan, menambah kengerian makhluk itu. Aku dan ayahku pun shok.. entah kami bisa berdiri apa tidak. Makhluk itu kira-kira punya tinggi dua meter, karena bisa mengintip dengan kepala besar di kaca jendela bus yang tinggi itu. "Nak..apa kamu baik-baik saja..?"tanya ayahku sembari memecah lamunanku. "A..a aku baik saja yah..tapi aku tak bisa menggerakkan kakiku".. jawabku dengan bibir beku dan kaku karena kedinginan dan ketakutan disaat yang sama. Tiba-tiba langit menjadi gelap, menambah suasana menjadi mencekam. Aku dan ayahku berkeringat d...