GOOSEBUMPS, SELAMAT DATANG DIRUMAH KEMATIAN
Bab.I
Pemindaian Mayat Hidup
Josh dan aku benci dengan rumah baruku. Astaga benar-benar, ini sangat besar dibandingkan rumah lamaku. Dinding bata merah yang tinggi dengan atap hitam miring dan bingkai jendela yang rapi.
"ini sungguh gelap" pikirku sambil mengamati dari jalan. Seluruh bagian rumah ditutupi oleh kegelapan seolah-olah bersembunyi di bayang-bayang keriput, Pohon-pohon tua yang membungkuk melewati atap-atapnya. Ini sudah pertengahan bulan Juli, tapi daun-daun cokelat yang berguguran masih menyelimuti halaman depan. Sepatu sniker kami menginjak keras dedaunan tersebut dengan susah payah melewati jalan masuk yang berkerikil.
Rumput-rumput liar yang tinggi muncul dimana-mana melalui daun-daun yang gugur. Rumput-rumput tebal ini menumbuhi sebuah kasur bunga-bunga mawar tua yang ada disamping teras depan. "Rumah ini benar-benar menyeramkan", gumamku tak senang. Josh pasti juga berpikir demikian, saat melihat kerumah tua dengan merintih keras.
Tuan Dawes, pemuda yang ramah dari perusahaan perumaha setempat berhenti dekat jalan depan dan berbalik arah. "Semua baik-baik saja"? tanya tuan Dawes, sembari menatap ke arah josh dan aku. dengan ,ata biru yang berkerut. "Josh dan Amanda tidak senang dengan perpindahan ini", ayah menjelaskan sambil memasukkan kemejanya kedalam celana.
Ayah agak kelebihan berat badan dan kemejanya selalu terlepas tanpa disadari. "Perpindahan ini sungguh sulit bagi anak-anak", tambah ibuku. sembari senyum kepada tuan Dawes dengan tangan dimasukkan ke kantong celana jeansnya dan melanjutkan arahnya ke pintu depan. "Kau tahu, meninggalkan semua teman-temannya untuk pindah ke tempat baru yang aneh".
"Iya benar-benar aneh", kata josh sembari mengusap kepalanya. "Rumah ini kotor", tuan Dawes tertawa. "Ya pastilah, kan ini rumah tua", kata tuan Dawes sambil menepuk bahu Josh. "Itu hanya perlu beberapa perbaikan Josh", kata ayah dengan senyuman ke tuan Dawes. "TIdak satu pun yang tinggal disini dalam beberapa waktu, jadi, bakal; ada beberapa yang harus diperbaiki", lanjut ayah.
"Lihat..betapa besarnya rumah ini", tambah ibu sembari meluruskan rambut hitamnya ke belakang dan senyum ke arah Josh. "Kita akan punya ruang dansa bahkan ruang rekaman juga", kamu pasti bakal suka iyakan Amanda?". Aku mengangkat bahuku karena semilir angin membuatku menggigil. Sebenarnya in indah, musim panas yang hangat. Tapi semaikin kami dekat dengan rumah, malah semakin dingin.
Comments
Post a Comment