Bus Hantu (part 2) Selendang Hitam Nenek

Baca sebelumnya, Part I Gubuk Kuno

Selendang Hitam Nenek

Source: Liputan6.com

Tiba-tiba anak itu...TERIAK MINTA TOLONG dari dalam bus!!!.

Tolooooong..tolong..buka pintu busnyaa...

Spontan aku dan ayahku menjatuhkan tas dan lari menuju bus membukakan pintu, "kok pintu bus nya ditutup sih" teriakku.

Tangan nenek yang tua dan lusuh itu menggenggam erat kedua tangan kami. hingga tertahan dan jatuh ke bumi.

"Nek !! Ngapain sih !!!" Bentak ayah yang tersungkur.

 "Kalian yang ngapain"!! Balas nenek,,

"Ya mau bukain pintu nek,, kan dia minta tolong" 

Yakin?" Tanya nenek sambil menatap bola mata ayah dan aku.

"....... Lah kenapa enggak yakin..?" balas ayah

"Bukannya kalian baru saja keluar dari bus? Karena tidak mendapati anak itu.. ? jelas nenek.

Ayah dan aku tersadar .. "oh benar juga,, kenapa anak itu ada di dalam bus?" Gumam kami,, 

Aku dan ayah langsung bangkit menuruti langkah nenek,, menjauhi bus tanpa berpaling sama sekali. "Kengerian apa ini!!" dalam hatiku.

Aku dan ayah lari tergopoh-gopoh ganti menuntun tangan nenek, namun langkah kami perlahan terhenti, ketika sampai di semak belukar yang menutupi jalan.

"Tak apa,, rumah nenek ke arah ini" kata nenek menenangkan.

Kulewati semak belukar liar yang besar, tanpa keraguan dengan harap rasa aman kudapatkan.

Sejauh lima ratus meter kami sampai ditengah hutan kecil yang gelap, udara sejuk menusuk epidermis ku. 

Aku dan ayah kebingungan ketika sadar diluar tadi begitu terang, sampai disini gelap sekali, pohon-pohon yang berusia ratusan tahun menjulang tinggi, hingga dahan dan daunnya menutupi langit.

Finally, kami sampai didepan gubuk reyot milik nenek tua yang menyelamatkan kami. Kayunya jabuk, Rayap di mana-mana, tidak ada penerangan kecuali dari toples- toples kaca yang berisi kunang-kunang, what... !!!.

Ini langka banget, kunang-kunang, serangga yang mengeluarkan cahaya di bokongnya di perkotaan sudah punah, bahkan di desaku hanya terlihat satu dua kali kunang-kunang yang terbang, itupun dalam hitungan detik tak terlihat lagi. Aku dan ayahku terkagum-kagum dengan pemandangan ini. 

Nenek membukakan pintu gubuknya dan mempersilahkan kami masuk. Bunyi engsel pintu yang tak asing lagi bak pintu di film-film horor,  menambah kengerian tempat ini. Aku dan ayahku hanya bisa berterimakasih dan bergumam tentang seramnya gubuk ini.

Kami duduk di kursi kayu yang dudukannya terbuat dari tali karet ketapel, diikat pada kerangka kursi dari bambu. Di tengahnya, ada meja yang cukup antik, dari pepohonan yang ditebang, lalu diperindah dengan resin, membuat mata menjadi segar kembali.

Banyak sekali koleksi barang-barang kuno peninggalan dinasti jaman dulu, entah masa perang atau apa. Mataku terbelalak ketika melihat fosil gading yang besar-besar nan runcing. Ada kepala macan, harimau bahkan puma yang belum pernah kulihat sama sekali. "Apa ini asli?" tanyaku sembari menyentuh fosil koleksi kepala harimau. 

 "hm.." jawab nenek singkat sambil menganggukkan kepalanya.

"Waw.. bagaimana bisa nenek mendapatkannya.. ini barang langka!!" Tanya ayah dengan seyum lebar joker".

"Itu peninggalan kakekku" jawab nenek sambil ikut mengelus batu berlian hitam yang amat langka.

"Bukankah itu batu berlian Deimos yang hilang dari Orion Museum International..?" Tanya ayahku penasaran

"Ya" jawab nenek singkat.

"Astaga nek... seluruh dunia mencarinya ! nenek dalam bahaya.. sudah berapa lama nenek menyembunyikannya.." Tanya ayah ketakutan.

"hah.. apanya yang bahaya..apa yang ku sembunyikan! ini milikku! milikku!!" ulang nenek

"Duduklah! akan ku ceritakan tentang kejadian 12 tahun yang lalu" kata nenek menenangkan.

Kami pun duduk bertiga di kursi sembari menatap nenek menunggu apa yang akan di ucapkan. Tapi nenek berdiri lagi untuk mengambil minuman dan camilan lalu mulai bercerita. Nenek mengambil sesuatu dari dalam lemari yang lusuh, namun tak disangka apa yang dikeluarkan nenek sungguh kontras, camilan dan minuman milik nenek berkemasan baru dan belum pernah kulihat.

"Apa dia doraemon? dari lemari yang lusuh, ada makanan yang baru, sedangkan minimarket sangat jauh disini" gumamku   

"Nak ini ,,,maaf cuma ada ini." sambil menawarkan suguhannya, si nenek menghela nafas dan duduk dengan senyuman lebar. semangkuk kue beras dan dua gelas teh hangat membuat mataku berbinar. Slep..tanpa ragu ayahku mengambil satu kue dan memasukannya ke mulut. Krauss..krauss..krauss.. begitulah bunyi kunyahan dari mulut ayah yang kelaparan.

"Enaaaak...ini kue beras terenak yang pernah ku makan " kata ayah kegirangan. Akupun mencoba satu dan benar,, ini enak banget.. Aku dan ayahku terus melahap apa yang ada di meja tanpa tahu darimana nenek membelinya. "Bahkan kami tak melihat nenek membuatkan teh,, sejak kapan dibuatnya? " Pikirku heran. "Ah sudahlah ,,yang penting perutku aman hingga malam nanti. Tak kusangka nenek tua ini bisa memiliki kue beras yang luar biasa, persis seperti resep kue beras mamaku.

" eh mamaku, Astaga !! ayah !! kita belum hubungi mama kalau kita disini" sadar ku. aku meminta ayah untuk menelpon mama, kebetulan aku anak sekolah yang tidak dibolehkan membawa hape, so..aku meminta tolong kepada ayahku. 

"hape...hape,,lah!!! hape ayah tidak ada di tas!!" ayah terkaget. "Apa!! bagaimana bisa ayah!! coba cari lagi!. Aku dan ayah mencari bersama di tas ayah, di tasku, dikantong kami, namun semua nihil..tidak ada.

"Jangan-jangan ayah meninggalkannya di bus !?". Tanya ayah ragu. Huff, aku menghela nafas dan menenangkan ayah. Keringat sebiji jagung keluar dari dahi ayahku, tangannya gemetar dan terlihat menyesal.

"Don't worry ayah, toh kita bisa kembali dan mencarinya di bus" aku menenangkan. "Jangan! jangan kembali ke bus !!. kamu harus berpikir 20 kali jika mau kesana" kata nenek yang khawatir sambil menatap jendela. Aku senang nenek ini khawatir kepada kami, aku bisa merasakan kepedulian dan kasih sayangnya, meski secara bersamaan aku takut karena nenek memiliki raut wajah seperti hantu nenek sihir.

"Tapi.. kalau kami tidak kembali, kami gak bisa pulang nek.. lagipula kami tidak mau merepotkan nenek" kata ayah yang beranjak dari kursi dan siap untuk kembali. aku ikut beranjak dan menguatkan argumen ayah. Aku dan ayah memaksa untuk kembali dengan alasan mengambil hape. Setelah negosiasi, nenek pun mengabulkan dengan syarat.

"Baiklah, silahkan kamu ambil hape itu tapi ingat, jika matahari mulai terbenam, kalian harus mengalungkan selendang ini pada bahu kalian" pesan nenek sambil memberi selendang sutra berwarna hitam.

"Untuk apa nek...kenapa harus membawa selendang ini" tanya ku. Aku bingung dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku dan ayahku menyetujuinya dan memasukkan selendang kedalam tas.

"Maaf, nenek kasih satu selendang aja ya, soalnya nenek hanya punya dua, nenek juga membutuhkannya" kata nenek yang mulai mengalungkan selendangnya.

"Padahal mereka tadi mau dengar ceritaku" gumam nenek sedih.

saya dan ayahku pergi keluar gubuk melewati semak belukar yang deras nan gelap. Di perjalanan, kami masih tidak menyangka ada semak selebat ini. Pohon-pohon tua menjulang tinggi, burung hantu hinggap hampir di setiap dahan pohon, seolah-olah hari sudah malam. kukuk...kukuk... begitu bunyinya, aku takut sekali ! aku mempercepat langkah ku melewati ayah.

"Nak pelan-pelan" tegur ayah sembari memegang senter kecilnya. Ayah mengikuti dan berkata, "nak.. apa iya bus nya masih nangkring?" tanya ayah. Mana aku tau yah,, makanya ayuk,, cepat-cepat".. jawabku kesal. Sesampainya di muara semak belukar, cahaya stasiun rest area menyambut kami. Kursi-kursi kosong, lampu yang hidup mati, kaca jendela loket bus berembun, menambah kengerian suasana ini. 

Kulangkahkan kaki ku dengan berani, membuktikkan aku yang sudah dewasa dan tidak lagi takut dengan kegelapan hingga bus kami pun terlihat, kami lega karena bus nya masih nangkring. Hanya saja DIMANA PENUMPANG YANG LAIN!!!.

Aku dan ayahku kaget dan bertanya-tanya, dimana penumpang yang lain. Sedangkan kursi-kursi , toilet rest area, semua kosong!!, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka!!. "Kenapa mereka meninggalkan bus begitu saja??" tanya ayahku bingung. "Bahkan tas dan kelengkapan lainnya ditinggal!" tambah ku.

"Ah cari dulu hapenya" "oh iya benar, ayo masuk ayah" ajakku

Aku dan ayahku masuk menaiki bus yang kosong melompong tak berpenghuni. Sembari mencari hape ayah, aku bergumam dalam hati "konyol sekali mereka, bisa-bisanya meninggalkan bus ini tanpa membawa tas-tas dan apapun itu". Ah sudahlah, mau mau mereka. 

"Yes !! dapat!!" Teriak ayah senang sambil memegang hapenya yang dingin. Aku lega melihat senyuman di wajah ayahku. 

"Cepat ayah telepon mama! kataku dengan riang gembira sambil mendekat ke ayah. "Oke nak" balas ayah. Siapa sangka senyuman ayah seketika sirna.

"Yah, ada apa? tanyaku. 

"Ada pesan dari anonymous (orang tanpa identitas)" jawab ayah sambil membuka pesan.

"SELAMAT DATANG DI BUS HANTU!!!" Aku dan ayah membaca bersama-sama. Kami berdua memandang pesan, lalu memandang sekeliling bus dan saling menatap wajah dengan kebingungan dibarengi senyuman tertahan.

"Hmphh... huahahahah " tertawa lepas keluar dari mulut kami. "Apa apaan ini hahaha" Ayahku menertawakan.

"Jaman sekarang, masih ada yang begini,,astaga sungguh luar binasa" kataku sambil menggaruk kepala. DUARR!!! ..Tiba-tiba terjadi ledakan keras memekik telinga dari gardu listrik rest area. Kami pun kaget. "Ayah!! itu apa?!, tanyaku ketakutan.

"Sepertinya gardu listrik nak,, astaga ayah kaget juga", balas ayah sembari memegang dadanya yang berdegup kencang.

Ayah menarikku ke arah pintu keluar bus, namun aku menghentikannya. "Ayah tunduk!!." Suruhku mendadak. Aku dan ayahku terduduk dibawah stir mobil bus yang cukup untuk dua orang, kakiku terjepit di sela-sela injakan gas dan kopling bus, namun tidak terasa sakit. Sedangkan ayahku terhantup di tuas porsneling bus.

"Duh...Kenapa nak.. ?" tanya ayah penasaran.

"Lihat yah!! Itu apa...ITU APA!!! " kataku terkejut dengan penuh ketakutan.

Ayah menaikkan kepalanya sedikit sambil jongkok, mengintip kedepan mengikutiku.

Sebuah bayangan hitam besar, bergerak dengan cepat dari arah tenggara bus kurang lebih 100 meter. Entah apa aku bermimpi, tapi jika iya, ini adalah mimpi buruk! Aku dan ayahku terkejut dan tak bisa bergerak. Seluruh tubuh kaku, hanya leher yang bisa kami gerakkan keatas dan kebawah. 

"Ada  apa ini"? gumam ku menjerit. Dengan perlahan tubuh kami mulai bergerak kembali, Ayah memelukku dan menundukkan kepalaku. "Ssttt... diam..dan jangan bersuara sedikitpun" kata ayah menenagkan. Aku mengikuti kata-kata ayah. Kami tidak bersuara selama lima menit. Tidak sedikitpun tanda-tanda dari polisi atau keamanan rest area yang muncul. hanya kami beruda, YA.. BERDUA...AKU DAN AYAHKU. 

Suasana hening memekik telinga, hingga aku dan ayah bisa mendengar suara air yang jatuh dari pipa-pipa bocor dinding rest area, maklum, rest area ini adalah salah satu tempat istirahat bus tertua tujuan desa Al vegas dan distrik Loren, sudah 2,9 abad usia rest area ini. Pemerintah setempat sengaja tidak memperbaikinya karena ingin mempertahankan gaya arsitektur kuno khas peradaban aztec suku maya. Itu yang aku baca dari buku Sejarah Al vegas pemberian ayahku.

"huff sampai kapan kita akan begini yah" tanyaku.

"Sampai kita aman nak" balas ayah menenangkan. Aku mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata dan mengungkit kepindahan kami ke desa Al Vegas. "Andai ayah tidak di pindah tugas disini, pasti kita gak akan ngalami hal kek gini" Sesalku.

"Maaf nak, Ayah tidak bisa berbuat apa-apa"...balas ayah

Ayah memelukku dan mengelus kepalaku. aku meminta maaf karena mengungkit masa lalu. kamipun merasa tenang. Suasana ketenangan memudar dengan berubahnya temperatur di jam tanganku. Ya, jam tanganku memiliki fungsi mengecek suhu di sekelilingnya. Suhu yang tadinya 29 derajat celcius turun drastis menjadi 12 derajat celcius.

"Astaga ayah kenapa jam tangaku begini.. apa ini rusak? tanyaku khawatir.

"Tidak nak! jam tangan yang ayah belikan untukmu baru! itu. Jam tangan itu benar,," jawab ayah sambil menunjuk kaca-kaca jendela yang memutih dan berembun. 

"Kengerian apa ini" gumamku dengan tangisan air mata

Aku dan ayahku berpelukan erat merasakan dingin yang sangat amat. Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, namun kami masih didalam bus dengan perasaan takut akan terjadi apa setelah ini, apakah kami akan selamat, berdiripun kami tak kuat, seolah-olah lutut kami pergi entah kemana.

Sriiiiit...Srittt....!! Suara berdecit tiba-tiba terdengar di telinga kami, suara itu jauh tapi terdengar jelas saking heningnya. 

Kami pun memberanikan diri, mengangkat kepala, mengintip di jendela dan..

"SENYUMAN LEBAR DENGAN  TARING  MENYERAMKAN SEPANJANG SATU METER MENEMPEL DI KACA LUAR BUS..

-bersambung-

selanjutnya, Part III senyum lebar bertaring

Comments

Popular posts from this blog

Bus hantu (part 3)Senyum lebar bertaring

TATA CARA SHOLAT TARAWIH DIRUMAH

Mengenal Budaya Lokal